Minggu, 15 Maret 2015

Laporan Praktikum ke-9                     Hari/Tanggal   : Selasa/18 November 2014
m.k Penyakit Organisme Akuatik       Kelompok       : XII
Asisten            : Dendy Hidayatullah
                         





GAMBARAN DARAH IKAN



Disusun oleh:
Sunarni
C14120075








 
















DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

                                                                                                                                           I.          PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Pembenihan merupakan salah satu kegiatan yang ikut menentukan keberhasilan suatu usaha budidaya ikan. Sering kali, benih ikan tidak terpenuhi baik secara kuantitas maupun kualitas. Salah satu penyebabnya yaitu serangan penyakit. Hal ini disebabkan karena sistem pertahanan tubuh ikan belum sempurna (Primadaka 1992). Penyakit merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan produksi ikan. Penyebab penyakit dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu penyakit infeksi (virus, bakteri, cendawan, cacing dan protozoa) dan noninfeksi (stres, intoksikasi, defisiensi nutrisi) (Zonneveld et al. 1991).
Salah satu indikator terjadinya infeksi pada ikan yaitu adanya perubahan pada gambaran darah. Ikan yang terinfeksi akan mengalami perubahan pada konsentrasi hemoglobin, jumlah leukosit total dan jumlah eritrosit (Lagler et al., 1977). Pemeriksaan darah ikan merupakan faktor penting dalam membantu diagnosis, prognosis dan terapi dari penyakit. Oleh karena itu untuk mengetahui status kesehatan ikan, perlu dilakukan pemeriksaan darah (Irianto 2005).  

1.2        Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa mengetahui gambaran darah ikan lele (Clarias sp.) dengan mengukur parameter jumlah sel darah merah dan hematocrit.



                                                                                                                                        II.              METODOLOGI

2.1    Waktu dan Tempat
Praktikum gambaran darah ikan dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 11 November 2014 pukul 15.30-18.00 di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan.

2.2    Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah Siryng, hemasitometer, mikrotube, baki, lap, mikroskop, tabung hematocrit, crept seal, sentrifuge dan penggaris.   Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan lele, antikoagulan ( Natrium sitrat 3,8%) dan hayem.
2.3    Prosedur
2.3.1 Pengambilan Darah
Siring dibilas dengan anti koagulan terlebih dahulu. Ikan lele ditutup pada bagian kepala lalu darah diambil pada bagian vena caudal. Setelah darah terambil, uhung siring dibuka dan darah dimasukkan ke dalam mikrotube.
2.3.2 Total Sel Darah Merah
            Darah diambil dengan skala 0,5 kemudian diencerkan dengan hayem sampai skala 101. Selanjutnya dibuang 1-2 tetes dan diteteskan pada hemasitometer dan diamati dibawah mikroskop.  
2.2.3 Hematokrit
            Darah diambil dengan menggunakan tabung hematocrit sebanyak ¾ bagian. Ujung tabung ditutup dengan cretoseal. Kemudian disentrifuge 5000 rpm selama 5 menit dan panjang sel dan total sel diukur.








                                                                                                           III.   HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil
Tabel 1. Hasil Jumlah Sel Darah Merah dan hematocrit Ikan Lele (Clarias sp.)             
Kelompok
SDM (sel/mm3)
Hematokrit (%)
1
4,1x 106
41,17
2
3,75x 106
33,33
3
0,8x106
28,57
4
0,34x 106
28,85
5
0,77x 106
13,8
6
1,47x106
33,3
7
4,54x 106
36
8
3,07x 106
28,3
9
2,4x106
28,3
10
2,56x 106
32,2
11
3,97x 106
38
12
3,47x 106
19,14

            Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa jumlah sel darah merah ikan lele paling banyak 4,54x 106 sel/mm3 dan sel darah merah terendah 0,34x 106 sel/mm3 sedangkan hematocrit terbanyak 41,17% dan dan nilai hematocrit terendah 13,8%.
3.2  Pembahasan
Darah ikan terdiri dari atas komponen cairan (plasma) dan komponen seluler (sel-sel darah). Sel-sel darah terdiri dari trombosit (keping darah), leukosit (sel darah putih) dan eritrosit (sel darah merah). Darah tersebut diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi tertutup (Wedemeyer et al 1990). Sel dan plasma darah berperan penting dalam fisiologis. Plasma darah adalah suatu cairan jernih yang mengandung gas terlarut, sisa hasil metabolisme, hasil absorpsi dari pencernaan makanan serta mineral terlarut (Lagler et al 1977).
Sel darah merah pada ikan merupakan jenis sel darah yang paling banyak jumlahnya. Semua jenis ikan memiliki bentuk eritrosit yang hampir sama. Eritrosit pada ikan memiliki inti. Eritrosit memiliki warna kekuningan, berbentuk lonjong, kecil dan berukuran 7 - 36 μm (Lagler et al 1977). Eritrosit yang sudah matang berbentuk oval sampai bundar, inti berukuran kecil dengan sitoplasma besar. Jumlah eritrosit pada ikan teleostei berkisar antara (1,05 - 3,0) x 106sel/mm3 (Irianto 2005). Ukuran eritrosit ikan lele (Clarias ssp) berkisar antara (10 x 11 μm) – (12 x 13 μm), dengan diameter inti berkisar antara 4 – 5 μm.
Hematokrit adalah persentase/perbandingan eritrosit di dalam darah (Guyton 1997). Hematokrit digunakan untuk mengukur perbandingan antara eritrosit dengan plasma, sehingga hematokrit memberikan rasio total eritrosit dengan total volume darah dalam tubuh. Nilai hematokrit dipengaruhi oleh ukuran dan jumlah eritrosit (Ganong 1995). Nilai hematokrit pada ikan teleostei berkisar antara 20 - 30% dan pada ikan laut bernilai sekitar 42% (Bond 1979).
Berdasarkan hasil praktikum diketahui nilai hematocrit ikan lele secara keseluruhan yaitu 13,8%- 41,17%. Menurut Angka et al (1985), Presentase nilai hematokrit ikan lele (Clarias spp) normal berkisar antara 30,8 - 45,5%. Berdasarkan literature tersebut maka dapat diketahui bahwa ikan lele dari kelompok 3, 4, 5, 8, 9 dan 12 merupakan ikan lele yang sakit karena nilai persentase hematokritnya dibawah nilai normal, sedangkan selain kelompok tersebut nilai hematokritnya masih normal atau ikan lele yang diambil darahnya dalam kondisi sehat.
Jumlah sel darah merah ikan lele yang dipraktikumkan secara keseluruhan 0,34x 106 - 4,54x 106 sel/mm3. Menurut Angka et al (1985), Jumlah eritrosit ikan lele (Clarias ssp) adalah 3,18 x 106sel/ml. berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa ada ikan lele yang kondisinya tidak normal karena jumlah sel darah merahnya dibawah jumlah normal. Menurut Wedemeyer dan Yasutake (1977), Rendahnya eritrosit merupakan indikator terjadinya anemia, sedangkan tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stress.
Pemeriksaan darah sangat penting untuk dilakukan karena dapat membantu menentukan diagnosa penyakit (Wedemeyer et al 1990). Penyimpangan fisiologis ikan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada gambaran darah, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Darah akan mengalami perubahan yang drastic apabila terkena penyakit infeksi (Amlacher 1970). Gangguan /penyakit dapat dilihat nilai hematokrit, konsentrasi hemoglobin, jumlah eritrosit (sel darah merah) dan jumlah leukosit (sel darah putih) (Lagler et al 1977)



                                                                                                           IV.        KESIMPULAN DAN SARAN

4.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa jumlah sel darah merah ikan lele berkisar 0,34x 106 sel/mm3 - 4,54x 106 sel/mm3 dan nilai hematocrit ikan lele berkisar 13,8% - 41,17%.
4.2  Saran
Diharapkan untuk pratikum selanjutnya ikan yang di praktikumkan lebih bervariasi / banyak sehingga praktikan dapat mengetahui perbedaan gambaran darah ikan dari berbagai jenis ikan.












DAFTAR PUSTAKA
Amlacher E. 1970. Text Book of Fish Disease. D.A.T.F.H. Publication. New York. USA. hlm 302.
Boyd CE. 1990. Water Quality Management For Pond Fish Culture. Elsevier Science Publishing Company Inc, New York. Hal 146 – 159.
Ganong WF. 1995. Buku Ajar fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiologi). Ed ke-4. Terjemahan P Adianto. EGC, Jakarta.
Guyton AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Irawati Setiawan (Penerjemah). Penerbit Buku kedokteran EGC, Jakarta.
Irianto Agus. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Lagler KF, Bardach JE, RR Miller, Passino DRM. 1977. Ichthyology. John Willey and Sons. Inc. new York-London. Hlm 506.
Primandaka JT. 1992. Pengaruh Penyuntikan Isolat Virulen Aeromonas hydrophila Secara Intramuskular Terhadap Gambaran Darah Lele Dumbo (Clarias sp.) Ukuran Fingerling. Skripsi. Fakultas Perikanan, IPB.
Weatherley AH. 1972. Growth and Ecology of Fish Population. Academy Press, London. 293p.
Wedemeyer GA, Yasutke. 1977. Clinical Methods for The Assessment on The Effect of Enviromental Stress on Fish Health. Technical Paper of The US Departement of The Interior Fish ang the Wildlife Service, 89 : 1-17
Zonneveld NE, EA Huisman, JH Boon. 1991. Prinsip - Prinsip Budidaya Ikan. Terjemahan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 381 hal.
























LAMPIRAN

HC      =  x 100%
=  x 100%
            =19,14%

SDM   = rata-rata sel x 16 x  x fp
            = x16x2x

            =3,47 x 106 sel/mm3
Laporan Praktikum ke-7&8                Hari/Tanggal   : Selasa/11 November 2014
m.k Penyakit Organisme Akuatik       Kelompok       : XII
Asisten            : -
                         





DETEKSI PENYAKIT VIRAL KHV (KOI HERPES VIRUS) PADA IKAN MAS MENGGUNAKAN PCR



Disusun oleh:
Sunarni
C14120075








 
















DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I.    PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Dalam lingkungan perairan, ikan senantiasa  kontak dengan jasad patogen seperti bateri, virus maupun protozoa yang berpotensi menginfeksi ikan. Masuknya jasad patogen ini tergantung dari lingkungan, ikan dan organisme patogen. Jika ikan tidak memiliki daya tahan yang baik maka ikan akan mudah terserang penyakit (Sari 2003).
Penyakit  yang  muncul  dalam  lingkungan  budidaya dapat disebabkan karena dua faktor, yaitu penyakit infeksi dan penyakit non infeksi. Penyakit  infeksi  disebabkan  karena  mikroorganisme,  seperti  cendawan,  bakteri, Virus.  Sedangkan  penyakit  non  infeksi  disebabkan  oleh  lingkungan,  seperti  faktor lingkungan, kekurangan asupan nutrisi, iklim, dan sebagainya.
Salah satu penyakit infeksius yaitu penyakit KHV. Penyakit KHV (Koi Herpes Virus) merupakan penyakit yang digolongkan sebagai penyakit utama di Indonesia. Penyakit ini menyerang ikan koi dan ikan mas. Penyakit ini sudah menyebar diseluruh Indonesia sehingga mengakibatkan produksi ikan mas mengalami penurunan (Sulistiyowati E et al 2010). Sehingga diperlukan cara untuk mengatasi penyakit KHV tersebut, salah satunya dengan metode PCR.

1.2        Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa mengetahui cara mendeteksi penyakit viral pada ikan dengan menggunakan metode PCR.


II.     METODOLOGI

2.1    Waktu dan Tempat
Praktikum deteksi viral KHV pada ikan mas menggunakan PCR dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 14 oktober 2014 dan selasa 4 November 2014. Praktikum ekstraksi DNA dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 oktober 2014 dan praktikum PCR dan elektroforesis dilakukan pada hari selasa 4 November 2014 di Laboratorium Marine Sains Technology (MST), Departemen Budidaya Perairan.

2.2    Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah termoshake, mikropipet, mikrotube, mikrotipe, kit pure gene A, sentrifuge, vortex, mesin PCR, elektroforesis, kulkas.  Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan mas, ETOH 70%, isopropanol 300 µl, protein presipitation solution 50 µl, proteinase k 150 µl, pp, buffer, MgCl2, dNTP, primer forward, primer reverse, IEW dan DNA.

2.3    Prosedur
2.3.1 Ekstraksi DNA
Bahan yang digunakan dalam praktikum sudah dilisis dan diinkubasi kemudian ditambahkan pp, selanjutnya divortex selama 10 detik dengan kecepatan sedang. Mikrotube disentrifugasi dengan kecepatan 1300 rpm pada suhu ruang selama 10 menit. Supernatan yang terbentuk diambil dengan mikropipet. Setelah terambil supernatant dimasukkan atau dipindahkan ke dalam mikrotube yang baru yang telah berisi isopropanol 300 µl lalu diinkubasi selama 10 menit. Mikrotube disentrifugasi dengan kecepatan 1300 rpm selama 10 menit. Supernatant yang terbentuk kemudian dibuang dan ditambahkan 1 µl ETOH 70%. Selanjutnya divortex selama 10 detik kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 13000 rpm selama 10 menit. Supernatan dibuang kemudian dikering udarakan,
2.3.2 Amplifikasi dengan PCR
            IEW dimasukkan ke dalam mikrotube sebanyak 20 µl, Primer forward 2 µl dan primer reverse 2 µl dimasukkan dimasukkan ke dalam mikrotube dengan mikropipet, kemudian sampel DNA 1µl dimasukkan ke dalam mikrotube. Mikrotube divortex lagi selama beberapa detik dan selanjutnya di PCR
2.2.3 Visualisasi dengan Elektrforesis
            Gel agarosa diwarnai dengan ethidium bromide (EtBr) kemudian diinkudasi selama 1 jam dan selanjutnya dilakukan pengamatan dibawah lampu UV dan difoto menggunakan kamera digital.
           


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil
Berikut ini adalah gambar hasil visuaisasi elektroforesis
                                    Gambar 1. Visualisasi dengan elektroforesis
Keterangan :                   1-13   : sampel
                                      -         : kontrol Bahan           
                                      +        : kontrol positif
Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa sampel yang terdeteksi ada 5 sampel yaitu sampel ke 3, 4, 8, 11 dan  12. Hal tersebut ditandai dengan hasil pita yang menunjukkan poaiai 300 bp.

3.2  Pembahasan
            Koi Herpes Virus (KHV) merupakan penyakit virus yang menyerang ikan mas dan koi. Sejak terjadinya wabah ikan mas yang disebabkan oleh KHV pada tahun 2002 produksi ikan mas di Indonesia mengalami kelesuan hingga sekarang. Infeksi KHV yang bermula terjadi di pulau Jawa telah menyebar ke Bali, Sumatera, dan Kalimantan Selatan (Ciptoroso et al 2006). Infeksi KHV ditandai dengan adanya bercak putih serta kematian masal pada ikan yang terserang. Selain itu biasanya diikuti oleh adanya infeksi sekunder berupa luka atau bercak putih di permukaan tubuh yang diinfeksi oleh bakteri seperti Aeromonas hydrophila ataupun Flexibacter columnaris.
            KHV telah menyebar hampir disemua daerah budidaya ikan mas di Indonesia. Hal itu sesuai dengan data yang telah terserang KHV berdasarkan keputusan mentri kelautan dan perikanan nomor: KEP. 03/MEN/2010 tentang jenis-jenis hama dan penyakit ikan karantina, golongan, media pembawa dan sebarannya ( Saselah et al 2012)
Pengendalian virus yang baik terdapat pada manajemen budidaya. Pengendalian dapat dilakukan melalui karantina terhadap pemasukan ikan-ikan baru, dengan menempatkan secara terpisah dari ikan-ikan lainnya dalam jangka waktu 2-4 minggu. Selama masa karantina tersebut, ikan diamati tingkah laku dan kesehatannya. Namun, bagaimanapun baiknya sistem karantina, sulit menjamin ikan tersebut bebas dari virus, hal ini disebabkan metode yang ada untuk mendeteksi virus masih terbatas dan virus dapat hadir dalam tubuh inang tanpa menunjukkan gejala klinis (Irianto 2005).
Penanganan penyakit KHV dapat dilakukan dengan Pemanfaatan Cr-yeast yang dicampurkan dalam pakan telah dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT Sukabumi) pada tahun 2006 dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan ikan mas dalam rangka pengendalian Koi Herpes Virus (KHV) dan menekan mortalitas akibat KHV (Ciptoroso et al 2006)
Dari hasil penelitian Ciptoroso et al (2006) menunjukkan Cr-yeast memberikan respon positif terhadap sintasan pemeliharaan maupun sintasan setelah uji tantang. Sintasan pemeliharaan ikan mas untuk masing-masing perlakuan A, B, C dan D secara berurutan adalah: 77.70%, 74.50%, 67.80% dan 54.30%. Sedangkan sintasan setelah uji tantang berturut-turut adalah: 67.66%, 63.33%, 50.00% dan 20.00%. Selain itu pengendalian atau penanganan virus dapat dilakukan dengan pemberian vaksin seperti yang dilakukan dalam penelitian Fitria (2009) bahwa vaksin DNA dengan dosis 12.5 μg/100μl dapat mempertahankan kelangsungan hidup ikan mas yang terinfeksi KHV sebesar 96.7% selama 29 hari setelah uji tantang.
Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa sampel 3, 4, 8, 11 dan  12 terdeteksi penyakit KHV ditandai dengan hasil elektroforesis pada 300 bp.  Sampel yang positif terinfeksi KHV akan terbentuk pita pada posisi 290-300 bp ( Mulyani et al 2011) sedangkan sampel yang lain tidak terdeteksi penyakit KHV.




























IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1    Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa penyakit viral KHV dapat dideteksi dengan menggunakan PCR
4.2    Saran
Diharapkan untuk pratikum selanjutnya praktikan lebih kondusif sehingga materi dapat diterima dengan baik.












DAFTAR PUSTAKA
Saselah JT, Reiny AT, Henky M. 2012. Determinasi Molekular Koi Herpes Virus KHV yang diisolasi dari ikan koi cyprinus carpio koi. Jurnal perikanan dan  kelautan tropis. Vol VIII-2
Ciptoroso, E mudjiutami dan Ayi S. 2006. Pemanfaatan immunostimulan (Cromium Yeast) untuk pengendalian penyakit pada ikan mas (internet) [diunduh 2014 Nov 10]. Tersedia pada:http://www.djpb.kkp.go.id/benih/ teknologi/PENGENDALIAN%20PENYAKIT%20IKAN%20MAS.pdf

Mulyani Y. Agus P dan Isni N. 2011. Perbandingan beberapa metode isolasi dna untuk deteksi dini koi herpes virus pada ikan mas cyprinus carpio. Fakultas perikanan dan ilmu kelautan. Universitas padjadjaran
Fitria IH. 2009. Efektivitas Vaksin Dna Dalam Meningkatkan Kelangsungan Hidup Ikan Mas Yang Terinfeksi Koi Herpesvirus (Khv). Skripsi.  Program Studi Teknologi Manajemen. Perikanan Budidaya, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Irianto Agus. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Yogyakarta : Gadjah BMada University Press.

Sari F. 2003. Identifikasi dan Uji Postulat Koch Cendawan penyebab Penyakit Pada Ikan Gurami. Skripsi. Budidaya Perairan, FPIK. IPB
Sulistiyowati E et al. 2010. Preparasi Antigen KHV untuk pencegahan Ibfeksi KHV pada ikan Koi ( Cyprinus carpio). Indonesian Journal Of Veterinary Science & Medicine. Volume 1 Nomor 2.










Selasa, 13 Mei 2014


PENCERNAAN
KECERNAAN PAKAN SECARA IN VIVO DAN IN VITRO
Digestion
feed digestibility in vivo and in vitro
Sunarni (C14120075)
*
Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
2014
Abstrak
Pencernaan makanan pada ikan berperan penting dalam siklus reproduksi dan pertumbuhannya. 
Dalam  prosesnya  diperlukan  enzim-enzim  untuk  membantu  kerjanya.  Enzim  pencernaan  dihasilkan 
oleh  organ-organ  tertentu  dalam  saluran  pencernaan.  Aktivitas  enzim  selama  proses  pencernaan 
dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor,  diantaranya  faktor  lingkungan,  jumlah  dan  konsentrasi  enzim, 
jumlah pakan dan aktivator.  Kegiatan ini  dilakukan untuk mengetahui  enzim mana yang paling baik 
dalam  menghidrolisa  protein  dan  emulsifikator  mana  yang  paling  baik  dalam  mengemulsi  lemak. 
Enzim  brolin  merupakan  enzim  yang  paling  banyak  menghidrolisa  protein.  Hal  tersebut  ditandai 
dengan  kekeruhan  yang  paling  banyak  dibanding  enzim  papain  dan  kontrol.  Bromelin  mampu 
memecah  molekul-molekul  protein  menjadi  bentuk  asam  animo.  larutan empedu  mudah  mengalami 
pencampuran  dengan  lemak,  sedangkan  larutan  kuning  telur  mudah  mengalami  pencampuran  dan 
pemisahan lebih lama  daripada larutan empedu. Kuning telur dapat stabil karena lemak dalam telur 
berbentuk  emulsi  yang  juga  dapat  bergabung  dengan  air  sehingga  menjadi  lebih  mudah  dicerna. 
Berdasarkan  kegiatan  yang  dilakukan  dapat  disimpulkan  bahwa  enzim  bromelin  merupakan  enzim 
yang paling banyak menghidrolisa protein dan kuning telur merupakan emulsifikator yang paling baik 
dalam mengemulsikan lemak. 
Kata kunci  :  pencernaan, enzim, bromelin, papain 
Abstract
Digestion of food in fish play an important role in the reproductive cycle  and growth. In the 
process  the  necessary  enzymes  to  help  her  .  Digestive  enzymes  produced  by  certain  organs  in  the 
digestive tract . Enzyme activity during the digestive process is influenced by several factors, including 
environmental factors , the amount  and concentration of enzyme , the amount of feed and activators . 
This activity is performed to determine where the best enzymes in the hydrolysis of proteins and which 
is best emulsifikator in emulsifying fats . Brolin enzymes are enzymes that hydrolyze  most proteins . It 
is  characterized  by  turbidity  compared  to  most  enzymes  papain  and  control  .  Bromelain  is  able  to 
break down the protein molecules into the acid form of interest . solution of bile prone to mixing with 
fat , whereas a solution of egg yolk  susceptible to mixing and separation longer than bile solution . 
Egg yolks can be unstable because of the fat in an egg  -shaped emulsion can also join with water so 
that  it  becomes  more  digestible  .  Based  on  the  activities  carried  out  it  can  be  concluded  that  the 
enzyme  bromelain  is  an  enzyme  that  hydrolyze  most  proteins  and  egg  yolk  is  the  most  well 
emulsifikator in emulsify fats .
Keywords: digestion, enzymes, bromelain, papain
PENDAHULUAN
Pencernaan  adalah  proses penyederhanaan  makanan  dari  senyawa kompleks  menjadi  sederhana melalui proses fisika  dan  kimia.  Pencernaan  makanan  pada ikan berperan penting dalam siklus reproduksi dan pertumbuhannya.  Proses  pencernaan makanan  di  dalam  sistem  organ  pencernaan ikan bertujuan untuk menghasilkan zat-zat sari makanan  untuk  diserap  oleh  tubuh.  Saluran pencernaan  ikan  terdiri  dari mulut, kerongkongan,  oesoephagus,  lambung,  usus dan anus. Kelenjar pencernaan ikan terdiri dari hati dan kantong empedu. Kelenjar pencernaan berfungsi untuk menghasilkan enzim pencerna yang  berguna untuk membantu  proses penghancuran makanan (Djarijah 2000). Enzim  merupakan  unit  protein fungsional yangberperan mengkatalisis reaksireaksi dalam metabolisme sel dan reaksi-reaksi lain  dalam  tubuh. Spesifikasi  enzim  terhadap substratnya teramat tinggi dalam mempercepat reaksi kimia tanpa produk samping  (Wuryanti 2004).  Enzim  pencernaan  dihasilkan  oleh organ-organ  tertentu  dalam  saluran pencernaan.  Selama  proses  pencernaan komponen  pakan  akan  berikatan  dengan bagian  enzim  yang aktif  melalui  mekanisme selektif  dan  khas.  Aktivitas  enzim  selama proses  pencernaan  dipengaruhi  oleh beberapa faktor,  diantaranya  faktor  lingkungan,  jumlah dan  konsentrasi  enzim,  jumlah  pakan  dan aktivator. Praktikum  ini  bertujuan  mengetahui enzim  mana  yang  paling  baik  dalam menghidrolisa protein dan emulsifikator  mana yang paling baik dalam mengemulsi lemak. 
METODOLOGI 
Waktu dan Tempat
Praktikum  dilaksanakan  pada  hari Kamis  tanggal    17  April  2014,  pukul  15.00 
WIB  di  laboratorium  Fisiologi  Hewan  Air, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 
Alat dan Bahan
Alat-alat  yang  digunakan  dalam praktikum  yaitu  tabung  reaksi,  pipet  dan  rak tabung.  Bahan-bahan  yang  digunakan  yaitu akuades,  minyak  goreng,  cairan  empedu ikan/ayam, kuning telur, potongan daging ikan, enzim papain dan enzim brolin.  
Prosedur Kerja
Pencernaan protein. Tiga tabung reaksi disiapkan.  Masing-masing  tabung  reaksi  diisi dengan  tiga  potong  daging  ikan.  Masingmasing  tabung  reaksi  ditambahkan  akuades  3 ml.  Kemudian  masing-masing  tabung  reaksi ditambahkan  1,5  ekstrak  enzim  (tabung  1 sebagai kontrol, tabung 2 diberi enzim papain, tabung  3  diberi  enzim  brolin).  Tabung  reaksi dikocok  terus  menerus  selama  1  jam  dan diamati tingkat kekeruhannya setiap 15 menit. Tabung  reaksi  dengan  cairan  terkeruh  berarti mengandung  zat  terlarut  terbanyak menandakan jenis enzim yang paling efektif. Pengelmusian  lemak.  Tiga  tabung reaksi disiapkan. Masing-masing tabung reaksi diisi  dengan  5  ml  akuades.  Masing-masing tabung  reaksi  ditambahkan  2 ml  minyak goreng.  Tabung  satu  ditambahkan  1  ml akuades,  tabung  2  ditambahkan  1  ml  cairan empedu dan tabung 3 ditam bahkan 1 ml cairan kuning  telur.  Masing-masing  tabung  reaksi  di kocok pada  setiap  interval  waktu  10  menit selama 1 jam. Kestabilannya diamati. 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran kecernaan protein dapat dilihat pada tabel berikut ini. 
Tabel 1  hasil pengukuran pencernaan protein
Waktu 
(menit)
Kontrol  Papain  Bromelin
10  2  2  3
20  2  2  3
30  2  2  3
40  3  3  4
50  3  3  4
60  3  3  4
Keterangan :
0  = bening
1  = tak berwarna
2  = agak keruh
3  = keruh
4  = sangat keruh
Berdasarkan  tabel  diatas  dapat  diketahui bahwa  enzim  brolin  memiliki  tingkat kekeruhan  tertinggi  dibandingkan  dengan enzim  papain.  Berdasar  tabel  tersebut  juga dapat  diketahui  semakin  lama  waktu pengocokan maka cairan semakin keruh. Hasil  pengukuran  pengemulsian  lemak dapat dilihat pada tbel berikut ini.
Tabel 2  hasil pengemulsian lemak. 
Waktu 
(menit)
empedu  Kuning 
telur
kontrol
10  2  3  1
20  2  3  1
30  2  3  1
40  2  3  1
50  2  3  1
60  2  3  1
Keterangan :
1  = cepat memisah
2  = lambat memisah 
Kelompok V(Risti)
3  = sangat lambat memisah
Berdasarkan  tabel  diatas  dapat  diketahui bahwa   kuning  telur  memiliki  kemampuan mengemulsi  lemak  paling  baik  dibandingkan dengan  empedu  dan  akuades.  Empedu memiliki kemampuan mengemulsi lemak yang cukup  baik,  sedangkan  akuades  memiliki kemampuan  mengemulsi  lemak  paling  buruk 
ditandai  dengan  sangat  lambat  proses pemisahannya.Bromelin  merupakan  unsur  pokok  dari nanas yang penting dan berguna dalam bidang farmasi  dan  makanan.  Fungsi  bromelin  mirip dengan  papain  dan  fisin,  yaitu  sebagai pemecah protein. (Wuryanti 2004). Papain  adalah  suatu  zat  (enzim)  yang dapat diperoleh dari getah tanaman pepaya dan buah  pepaya  muda.  Getah  pepaya  tersebut terdapat  hampir  di  semua  bagian  tanaman pepaya,  kecuali  bagian  akar  dan  biji. Kandungan  papain  paling  banyak  terdapat dalam buah pepaya yang paling muda. Papain dikenal  dua  macam,  yaitu  papain  kasar  dan papain  murni. Getah  pepaya  (papain)  cukup banyak  mengandung  berbagai  macam  enzim yang  bersifat  proteolitik (pengurai  protein)( Warisno 2007). Berdasarkan  hasil  pengamatan  dapat diketahui  bahwa  enzim  brolin  merupakan enzim  yang  paling  banyak  menghidrolisa protein.  Hal  tersebut  ditandai  dengan kekeruhan  yang  paling  banyak  dibanding enzim  papain  dan  kontrol.  Bromelin  mampu memecah  molekul-molekul  protein  menjadibentuk  asam  animo  (Wijiati  2000).  Hal  ini disebabkan karena enzim bromelin mempunyai sisi aktif yang mengadung thiol (SH) sehingga mampu  memecah  molekul-molekul  protein menjadi  bentuk  asam.  Selain  itu  dilihat  dari komposisi  pembuatan  enzim  tersebut  yang terbuat  dari buah  nanas  yang  banyak mengandung  serat-serat  sehingga  serat-serat tersebut  kurang  tersaring  dan hasil  saringan yang  banyak  mengandung  serat  itu  dipakai untuk indikator pencernaan protein. Namun hal 
itu  juga  disebabkan  karena  dipengaruhi  oleh kondisi  lingkungan  seperti  pH,  suhu,dan adanya inhibitor (Khoirunnisa 2002). Emulsifikator merupakan bahan untuk menstabilkan cairan emulsi, dimana pengertian dari  emulsi  itu  sendiri  adalah  suatu  campuran yang  terdiri  dari  dua  bahan  tidak  bisa bercampur,  dengan  satu  bahan  (fasa  tersebar) tersebar di dalam fasa yang lain (fasa selanjar).Minyak  merupakan  senyawa  emulsi  (air  yang larut di dalam minyak). Agar tetap larut dalam minyak,  diperlukan  emulsifier  seperti  kuning telur, kasein, albumin dan lesitin. Semua  ikan  mensekresi  empedu  dan empedu  membuat  alkalis  isi  lambung  yang bersifat  asam.  Karena  tugasnya  adalah membuat  emulsi  lemak,  maka  penting  sekali untuk  pencernaan  lemak  dan  absorbsi  secara normal.  Reabsorbsi  garam-garam  empedu membantu dalam mempertahankan pencernaan dan  kesehatan  ikan.  makanan  yang  dicerna diabsorbsi ikan dalam 3 cara, yakni diabsorbsi secara  diffusi,  pengakuan  aktif,  dan  beberapa partikel  diabsorbsi  secara  phagositosis (Murtidjo 2007). Cairan empedu berperan sebagai bahan emulsi.  Cairan  empedu  terdapat  sebagai  asam empedu  dan  garam  empedu.  Tetapi  empedu mengandung  sejumlah  besar  garam-garam empedu terutama dalam bentuk garam natrium terionisasi  yang  sangat  penting  dalam  proses emulsifikasi  lemak.  larutan  empedu  mudah mengalami  pencampuran  dengan  lemak, sedangkan  larutan  kuning  telur  mudah mengalami pencampuran dan pemisahan lebih lama  daripada  larutan  empedu.  Kuning  telur dapat  stabil  karena  lemak  dalam  telur berbentuk  emulsi  yang  juga  dapat  bergabung 
dengan  air  sehingga  menjadi  lebih  mudah dicerna  hal  ini  disebabkan  karena  sepertiga kuning  telur  merupakan  glicerida  asam  lemak yang  mudah  dicerna  lambung  dan  dapat diserap  dengan  baik  oleh  usus  halus. Sedangkan  pada  cairan  empedu  yang mengandung  zat  anorganik  dan  beberapa  zat organik  seperti  asam  empedu,  bilirubin  dan kolesterol  serta  adanya  asam  empedu  sebagai emulgator  maka  lemak  dalam  usus  dapat dipecah-pecah menjadi partikel kecil sehingga luas  permukaan  lemak  menjadi  lebih  besar tetapi  sulit  diserap  oleh  usus  tersebut  (Wijiati 2000). 
KESIMPULAN
Berdasarkan  hasil  praktikum  dapat disimpulkan  bahwa  enzim  bromelin merupakan  enzim  yang  paling  banyak menghidrolisa  protein  dan  kuning  telur merupakan  emulsifikator  yang  paling  baik dalam mengemulsikan lemak. 

SARAN
Enzim yang digunakan dalam praktikum sebaiknya  lebih  bervariasi  lagi  sehingga praktikan  dapat  membandingkan  enzim  mana yang  paling  efektif  dalam  menghidrolisa protein dan lemak
DAFTAR PUSTAKA
Djarijah  A.  2000.  Pakan  Ikan  Alami. 
Yogyakarta: Kanisius
Khairunnisa  H.  2002.  Pengaruh  Penggunaan 
Papain  dalam  Meningkatkan 
Kecernaan  Protein  Kedelai  Secara  IN 
VITRO.  [Skripsi]  Bogor:  Fakultas 
Perternakan, Institut Pertanian Bogor. 
Murtidjo  B.  2007.  Pedoman  Meramu  Pakan 
Ikan. Yogyakarta: Kanisius
Warisno.  2007.  Budi  Daya  Pepaya. 
Yogyakarta: Kanisisus
Wijiati  F.  2000.  Studi  Tentang  Karakteristik 
Tepung  Ikan  Tembang  (Sardinella 
fimbriata)  Hasil  Reksi 
Hidrolisis/Plastein  Dengan  Enzim 
Bromelin/Pepsin  Dan 
Bromelin/Tripsin.  [Skripsi]  Bogor: 
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 
Institut Pertanian Bogor
Wuryanti.  2004.  Isolasi  dan  Penentuan 
Aktivias  Spesifik  Enzim  Bromelin
dari  Buah  Nanas  (Ananas  comosus 
l.). JKSA. Vol. VII. No.3