Selasa, 13 Mei 2014

KETAHANAN IKAN DI LUAR MEDIA AIR
The Fish Resistance Out Of Water Media
Sunarni (C14120075)*

Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
2014
Abstrak
Umumnya ikan tidak dapat mengambil oksigen di luar media air. Beberapa jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan yang dapat membantu bertahan lebih lama di luar air. Ikan yang tidak memiliki alat pernapasan tambahan melakukan pola adaptasi dengan mengeluarkan lendir pada permukaan tubuhnya untuk mempertahankan kelembaban tubuhnya. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan suatu jenis ikan bertahan di luar media air. Metode yang digunakan yaitu Rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 15 ulangan. Perlakuan yang dimaksud disini jenis ikan yaitu ikan sepat, komet, lobster dan gurame. Ikan lobster, sepat dan gurame memiliki ketahanan hidup di luar media air tinggi dibanding dengan ikan komet. Karena lobster, sepat dan gurame memiliki alat pernafasan tambahan berupa labirinth sedangkan ikan komet tidak memiliki alat pernapsan tambahan. Berdasarkan kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa Ikan memiliki ketahanan hidup di luar media air. Tingkat ketahanan untuk bertahan di luar media air berbeda-beda tergantung pada jenis ikan, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan.
Kata kunci       :  oksigen, ketahanan, alat pernafasan tambahan
Abstract
Generally fish can not take oxygen out of the water medium . Some types of fish have additional breathing apparatus to help last longer out of water . Fish that do not have additional respiratory pattern adaptation do with mucus on the surface of the body to maintain body moisture . This activity was conducted to determine the ability of a species of fish survive out of water media . The method used was a completely randomized design ( CRD ) with 4 treatments and 15 replications . The treatment is meant here the type of fish is fish Sepat , comets , lobster and carp . Lobster fishing , carp have Sepat and survival beyond the high water medium compared with comet fish . Because lobster , Sepat and carp have a labirinth additional breathing apparatus while comet fish has no additional pernapsan tool . Based on these activities can be concluded that the fish had a medium survival outside the water . The level of resilience to survive outside water media vary depending on the type of fish , size , physiological condition and environment variables .
Keywords : oxygen , resistance , additional respirator





PENDAHULUAN
Oksigen digunakan untuk proses metabolisme, oleh karenanya keberadaan oksigen akan mempengaruhi proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh organisme. Jika oksigen dalam perairan rendah, energi yang dihasilkan dari proses metabolisme juga akan rendah (Mahyuddin 2008). Ketika ikan dikeluarkan dari medianya maka akan terjadi respon di dalam tubuh ikan terhadap pengaruh lingkungan yang diberikan. Tingkat ketahanan untuk bertahan di luar media air berbeda-beda tergantung pada jenis, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan seperti suhu dan tingkat kelembaban. Selain itu setiap jenis ikan memiliki toleransi yang berbeda dan tingkah adaptasi yang berbeda terhadap ketahanan di luar media air.
Dalam budidaya ikan ada kalanya kita akan melakukan pemindahan ikan atau pengangkutan ikan. Pengangkutan ikan dalam keadaan hidup merupakan salah satu mata rantai dalam usaha perikanan. Harga jual ikan, selain ditentukan oleh ukuran, juga ditentukan oleh kesegarannya (Suprapti 2005). Oleh karena itu, kegagalan dalam pengangkutan ikan merupakan suatu kerugian. Pada prinsipnya, pengangkutan ikan hidup bertujuan untuk mempertahankan kehidupan ikan selama dalam pengangkutan sampai ke tempat tujuan. Pengangkutan dalam jarak dekat tidak membutuhkan perlakuan yang khusus. Akan tetapi pengangkutan dalam jarak jauh dan dalam waktu lama diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan.
Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering.
            Umumnya ikan tidak dapat mengambil oksigen di luar media air. Beberapa jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan yang dapat membantu bertahan lebih lama di luar air. Ikan yang tidak memiliki alat pernapasan tambahan melakukan pola adaptasi dengan mengeluarkan lendir pada permukaan tubuhnya untuk mempertahankan kelembaban tubuhnya. Praktikum ketahanan ikan di luar media air ini sangat berguna bagi proses transportasi ikan, karena dengan mengetahui daya tahan ikan maka dapat ditentukan metode pengangkutan yang cocok diterapkan pada jenis ikan tersebut. Oleh karena itu praktikum ketahanan ikan di luar air sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan dari suatu jenis ikan bertahan di luar media hidupnya.
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 27 Maret 2014 di Laboratorium Fosologi Hewan Air, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum yaitu botol air mineral 1,5 L, stopwacth, kain fiber, cutter, lakban dan gelas cup. Bahan-bahan yang digunakan yaitu ikan-ikan yang memiliki pernafasan tambahan dan ikan-ikan yang tidak memiliki pernafasan tambahan.
Rancangan Percobaan
Rancangan acak lengkap (RAL) adalah rancangan yang digunakan untuk percobaan yang mempunyai media atau tempat percobaan yang seragam atau homogen, sehingga RAL banyak digunakan untuk percobaan laboratorium (Sastrosupadi 2000). Dalam praktikum ini digunakan rancangan percobaan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 15 ulangan. Perlakuan dalam praktikum yaitu ikan sepat, komet, lobster dan gurame.    
Prosedur Kerja
Ikan diambil dari akuarium lalu letakkan dalam cup berisi air. Botol mineral dilubangi dengan cutter kemudian kain fiber yang sudah dibasahi dengan air  diletakkan didalamnya. Satu fiber pertama dimasukkan ke dalam botol, kemudian ikan uji diletakkan ke dalam botol tepat diatas fiber basah pertama lalu ikan ditutup dengan satu fiber berikutnya. Tingkah laku ikan yang diuji ketahanan hidup diluar media air diamati dan dicatat ketika ikan tersebut mati. Kurva tingkat kematian kumulatif dibuat pada akhir pengamatan dan ketahanan hidup antar spesies ikan diluar media air dibandingkan.

Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
Model observasi:

Yij= µ+τi+εij

Dimana i = 1,2,3...., j = 1,2,3...
Keterangan :
Yij= pengaruh perlakuan ke-i, ulangan ke i
µ  = rataan umum
τi  = pengaruh perlakuan ke-i
εij = galat perlakuan ke-i, ulangan ke j
Asumsi:
1.εy bebas satu sama lain
2. εij  N
3. pengaruh perlakuan τi bersifat tetap
4. µ, τi, εij bersifat aditif
Hipotesis
Ho =  jeniskan  tidak mempengaruhi ketahanan ikan diluar media air
H1=   jenis ikan mempengaruhi ketahanan ikan diluar media air atau minimal ada satu perlakuan yang mempengaruhi ketahanan ikan di luar media air.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan ketahanan di luar media air berbagai jenis ikan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1  ketahanan berbagai jenis ikan di luar media air
Ulangan
Perlakuan (jenis ikan)
Sepat (menit)
Komet (menit)
Lobster (menit)
Gurame (menit)
1
195
50
2235
80
2
195
57
2400
80
3
195
60
2580
135
4
70
32
1815
50
5
123
40
1950
285
6
135
58
2025
310
7
270
50
1985
20
8
290
50
2040
60
9
305
60
2160
152
10
90
70
1020
80
11
80
70
1560
80
12
206
80
1920
80
13
80
34
620
110
14
270
42
620
123
15
280
46
610
130
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa ikan yang memiliki ketahanan di luar media air paling tinggi yaitu lobster dan yang paling rendah yaitu ikan komet. Lobster memiliki ketahanan hidup di luar media air rata-rata sekitar 1702 menit atau 28 jam. Ikan komet memiliki ketahanan hidup di luar media air sekitar 53 menit. Ikan sepat memiliki ketahanan di luar air sekitar 185 menit dan ikan gurame memiliki ketahanan sekitar 118 menit
Tingkat kematian kumulatif berbagai jenis ikan dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Grafik 1  Kurva tingkat kematian kumulatif ikan uji
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa ikan lobster memiliki ketahanan hidup di luar media air paling tinggi sedangkan ikan komet memiliki ketahanan hidup di luar media air paling rendah.
Apabila ikan dikeluarkan dari media air, insang tidak akan mampu memanfaatkan oksigen karena medium air dan medium udara berbeda dalam hal kerapatan dan kekentalannya meskipun sama-sama fluida. Hal ini akan berpengaruh terhadap tingkah laku ikan untuk merespon perlakuan apabila diluar media air. Insang ikan akan cenderung lengket dan berkurang kelembabannya apabila di luar media. Umumnya ikan akan mengeluarkan lendir untuk mempertahankan kelembabannya. Namun ada beberapa jenis ikan yang mempunyai alat pernafasan tambahan seperti labirin (sepat, betok dan gurame), arboresen (lele dan patin), divertikula (gabus), bukopharinx (belut) maupun kulit (ikan sebelah) yang mampu memanfaatkan langsung oksigen dari udara sehingga ketahanan ikan-ikan tersebut menjadi lebih baik (Ghufron dan Kordi 2010).
Ikan yang memiliki pernafasan tambahan dengan ikan yang tidak memiliki alat pernafasan tambahan tentu memiliki kemampuan yang berbeda dalam bertahan di luar media air. Ikan yang memiliki pernafasan tambahan mampu bertahan di luar media air selama beberapa jam seperti lobster, gurame dan sepat. Sedangkan ikan yang tidak memiliki pernafasan tambahan, misalnya ikan komet dapat bertahan hidup di luar media air kurang darin satu jam.
Lobster merupakan salah satu kelompok udang yang memiliki ukuran tubuh relatif besar dan mempunyai alat pernafasan tambahan yang berupa labirinth. Dengan adanya alat pernafasan tambahan tersebut, lobster mampu beradaptasi untuk hidup di luar air selama beberapa jam dalam lingkungan yang lembab. Secara anatomi, saat lobster dalam keadaan tanpa air, pada rongga karapas masih mengandung air, sehingga masih mampu menyerap oksigen yang terdapat pada air dalam rongga karapas (Sukmajaya dan Suharjo 2003).
Ikan gurame memiliki kemampuan bertahan hidup di lingkungan air yang tergenang dan berkembang biak pada tempat yang tidak memungkinkan bagi ikan seperti ikan mas dan tawes. Hal ini berkaitan dengan adanya alat pernafasan tambahan berupa labirinth yang terdiri dari pembuluh kapiler sehingga  memungkinkannya mampu menghirup oksigen dari udara bebas (Susanto 2010). Ikan sepat juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa labirinth sehingga mampu bertahan hidup di luar media air (Ghufron dan Kordi 2010).
Berdasarkan hasil analisis dengan anova diketahui bahwa Fhit lebih besar dari Ftab yang artinya gagal tolak H0. Dari hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa jenis ikan mempengaruhi ketahanan ikan di luar media air.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa Ikan memiliki ketahanan hidup di luar media air. Tingkat ketahanan untuk bertahan di luar media air berbeda-beda tergantung pada jenis ikan, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan
SARAN
Ikan yang digunakan untuk praktikum  sebaiknya ikan yang memiliki alat pernafasan yang berbeda-beda sehingga praktikan dapat mengetahui perbedaan ketahanan hidup ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ghufron M dan Kordi K. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Yogyakarta: Lili Publisher
Mahyuddin Kholish. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Depok: Penebar Swadaya
Sastrosupadi Adji. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Yogyakarta: Kanisius
Sukmajaya Yade dan Suharjo L. 2003. Lobster Air Tawar; Komoditas Perikanan Prospektif. Depok: AgroMedia Pustaka
Suprapti M. 2005. Teknologi Pengolahan Pangan : Bandeng Asap. Yogyakarta: kanisius
Susanto Heru. 2010. Budidaya Ikan Gurame. Yogyakarta: Kanisisus


RESPIRASI (Tingkat Konsumsi Oksigen)
Respiration (level of oxygen consumtion)

Sunarni (C14120075)*

Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
2014

Abstrak
Oksigen merupakan salah satu parameter lingkungan yang sangat dibutuhkan oleh hewan akuatik. Oksigen dibutuhkan untuk proses respirasi, metabolisme dan oksidasi bahan-bahan organik maupun anorganik. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan oksigen pada ikan lele, tingkat metabolismenya dan kebutuhan oksigen ikan yang berbeda ukuran. Rancangan yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu tancangan acak faktorial dengan 2 perlakuan dan 5 ulangan. Oksigen terlarut pada  ikan lele yang berukuran besar maupun kecil cenderung mengalami penurunan karena kebutuhan oksigen ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis, stadium dan aktifitas ikan. DO ikan lele yang berukuran besar maupun kecil cenderung mengalami penurunan. Dari kegiatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa konsumsi oksigen ikan lele dipengaruhi oleh ukuran ikan.

Kata kunci: oksigen, oksigen terlarut, konsumsi oksigen

Abstract
Oxygen is one of the environmental parameters that are needed by aquatic animals. Oxygen is needed for respiration, metabolism and oxidation of organic materials and inorganic. This activity is conducted to determine the oxygen demand in channel catfish, metabolic rate and oxygen demand of fish of different sizes. The design used in this activity is tancangan randomized factorial with 2 treatments and 5 replications. Dissolved oxygen in catfish large and small tend to decrease because the oxygen demand of fish varies greatly, depending on the type, stage and fish activity. DO catfish large and small tend to decrease. Of activities undertaken can be concluded that the oxygen consumption is influenced by the size of the catfish fish.

Keywords: oxygen, dissolved oxygen, oxygen consumption





PENDAHULUAN
                      Dissolved Oxygen (DO) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesis dan absorbsi atmosfer atau udara. DO di suatu perairan sangat berperan dalam proses penyerapan makanan oleh organisme akuatik. Semakin banyak jumlah DO (dissolved oxygen), maka kualitas air semakin baik. Jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi (Salmin 2000).
                      DO dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan reproduksi. Di samping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin 2000).
Kandungan oksigen yang rendah akan mengakibatkan kematian ikan yang banyak, secara langsung atau tidak langsung, Seperti juga manusia, ikan membutuhkan oksigen untuk proses respirasi (pernapasan). Jumlah oksigen yang diperlukan oleh ikan adalah tergantung pada ukuran, makan, tingkat aktivitas dan suhu (Witeska et al 2010).
Praktikum ini bertujuan mengamati prinsip-prinsip pengukuran konsumsi oksigen, mengetahui kebutuhan (konsumsi) oksigen pada hewan uji sebagai refleksi tingkat metabolismenya dan mengetahui perbedaan kebutuhan konsumsi oksigen pada hewan uji yang berukuran besar ataupun kecil.

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 20 Maret 2014 pukul 15.00 WIB di laboratorium Fisiologi Hewan Air, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum yaitu akuarium, timbangan digital, sterofoam, lakban, aerator, botol BOD, DO meter, botol cup, stopwatch, dan alat tulis. Bahan- bahan yang digunakan yaitu ikan lele besar, ikan lele kecil air dan garam.
Rancangan Percobaan
Rancangan acak faktorial (RAF) adalah  suatu rancangan percobaan mengenai sekumpulan perlakuan yang terdiri atas semua kombinasi yang mungkin dari taraf beberapa faktor (Pratisto 2005). Dalam praktikum ini digunakan rancangan percobaan acak faktorial dengan 2 perlakuan dan 5 ulangan dengan ukuran ikan yang berbeda yaitu ikan lele besar dan ikan lele kecil. Dua perlakuan tersebut adalah perlakuan kontrol dan salinitas. Pengamatan dilakukan pukul 15.00 WIB.                                      
Prosedur Kerja
Akuarium diisi dengan air hingga ketinggian 12,5 cm atau setara dengan 10 liter. Ikan lele ditimbang lalu dimasukkan ke dalam akuarium. Alat respirometer tertutup dibuat dengan bahan sterofoam yang disesuaikan dengan ukuran akuarium. Bagian tengah sterofoam dilubangi dan selang aerator dimasukkan. Semua lubang dan celah ditutup dengan lakban. Air sampel diambil melalui selang pengeluaran dan ditampung dalam botol cup. Pengambilan dilakukan dengan teliti dan dihindarkan terjadinya bubbling. Kadar oksigen terlarut diukur secara langsung dengan DO meter. Pengukuran berikutnya dilakukan dengan cara yang sama pada menit ke 15, 30, 45 dan 60. Hasil yang didapat dicatat.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
Model observasi:
Yijk= µ+τi+ᵦj+ (αᵦ)ijijk
Dimana  i = 1,2,3.....
j = 1,2,3...
k= 1,2,3..
Keterangan :
Yijk= nilai pengurutan pada satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij (taraf i di faktor a dan taraf j difaktor b)
µ   =  rataan umum populasi
τi   =  pengaruh aditif taraf ke-i di faktor a
j      =  pengaruh aditif taraf ke-j di faktor b
εijk =   galat dari satuan perlakuan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij
(αᵦ)ij = interaksi antara faktor a dan b
Asumsi:
          1. εijk  N
2. pengaruh perlakuan τi bersifat tetap
3. komponen µ, τi, ᵦj,  (αᵦ)ij , εijk bersifat   aditif
4. ada interaksi antara faktor a dan b
Hipotesis
1.      Untuk faktor a
Ho = ukuran tidak mempengaruhi   tingkat konsumsi oksigen
H1 =  ukuran mempengaruhi tingkat konsumsi oksigen ikan atau minimal ada satu perlakuan yang mempengaruhi tingkat konsumsi oksigen.
2.      Untuk faktor b
Ho = salinitas tidak mempengaruhi tingkat konsumsi oksigen
H1 = salinitas mempengaruhi konsumsi oksigen atau minimal ada satu perlakuan yang mempengaruhi konsumsi oksigen ikan.
3.      Interaksi
Ho =  (αᵦ)ij  = 0
H1 = minimal ada satu (αᵦ)ij   ≠ 0

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil tingkat konsumsi ikan lele (Clarias batracus) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 1  tingkat konsumsi oksigen ikan lele
Perlakuan
Salinitas
Kontrol
Ikan besar




0,67
0,42
0,83
0,57
0,75
0,26
0,95
0,13
0,29
0,04
Ikan kecil




5,04
19
3,44
5,5
6,57
3,75
0,19
3,37
0,83
0,72
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pada perlakuan salinitas ikan lele besar memiliki tingkat konsumsi terbesar yaitu 0,95 mg O2/L. Dalam keadaan normal, ikan lele besar memiliki tingkat konsumsi oksigen terbesar yaitu 0,57 mg O2/L. Ikan kecil dengan perlakuan salinitas memiliki tingkat konsumsi oksigen terbesar yaitu 6,57 mg O2/L dan perlakuan kontrol memiliki tingkat konsumsi oksigen terbesar 19 mg O2/L.
Grafik tingkat konsumsi ikan lele (Clarias batracus) dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1 tingkat konsumsi oksigen ikan lele (Clarias batracus)
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa ikan lele berukuran kecil dengan perlakuan salinitas memiliki tingkat konsumsi oksigen paling tinggi, sedangkan tingkat konsumsi terendah terdapat pada ikan lele yang berukuran besar dengan perlakuan kontrol.
Oksigen sangat diperlukan untuk respirasi dan proses metabolisme ikan serta organisme perairan lainnya. Kebutuhan oksigen ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis, stadium dan aktifitas ikan. Jenis-jenis ikan yang dapat mengambil oksigen diudara dapat bertahan hidup pada keadaan oksigen terlarut di perairan rendah. Pada stadium kecil, keperluan oksigen untuk kehidupan ikan relatif lebih besar dari pada stadia lanjut dan kebutuhan oksigen ikan yang bergerak aktif relatif lebih besar dari pada ikan yang diam. (Cahyono 2011).
Berdasarkan hasil praktikum, DO ikan lele yang berukuran besar maupun kecil cenderung mengalami penurunan. DO awal lebih tinggi dari DO akhir. Hal tersebut terjadi karena ikan dihindarkan mendapat oksigen dari luar sehingga tidak terjadi difusi. Ikan melakukan respirasi terus menerus dengan mengeluarkan CO2 sehingga kandungan oksigen di air tersebut berkurang. Ikan lele yang dikondisikan pada salinitas juga mengalami penurunan DO. Hal tersebut terjadi karena kadar oksigen terlarut ditentukan oleh temperatur, kadar garam (salinitas) dan tekanan parsial gas yang terlarut dalam air (Cahyono 2011).
Seiring dengan penambahan garam, suhu juga meningkat akibatnya proses respirasi dan metabolisme ikan berlangsung cepat. Selanjutnya peningkatan respirasi mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Proses respirasi yang tinggi yang tidak diikuti dengan proses difusi oksigen menyebabkan CO2 berlebih didalam air sehingga kandungan oksigen di dalam air menjadi berkurang (Effendi 2012).
Berdasarkan analisis dengan anova dapat diketahui bahwa ukuran ikan berpengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi oksigen. Sedangkan salinitas tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi oksigen ikan lele dan antara ukuran ikan dengan salinitas tidak ada interaksi antara keduanya.

KESIMPULAN
Konsumsi oksigen pada ikan lele dipengaruhi oleh ukuran tubuh ikan, salinitas dan aktifitas. Berdasarkan analisis dengan tabel anova hanya ukuran ikan saja yang berpengaruh nyata terhadap konsumsi oksigen.



SARAN
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya, spesies ikan dapat diperbanyak untuk membandingkan tingkat oksigen antar spesies. Selain itu, diperlukan kerja sama untuk setiap kelompok agar praktikum berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono Bambang. 2011. Budidaya Ikan Di Perairan Umum. Yogyakarta: Kanisius
Effendi H. 2012. Telaah Kualitas Air, Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius
Pratisto Aris. 2005. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan percobaan dengan SPSS 12. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Salmin. 2005. Oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biologi (BOD) sebagai salah satu indikator untuk menentukan kualitas perairan. Oseana. 30(3): 21-26.
Witeska et al. 2010. Changes In Oxygen Consumption Rate and Red Blood Parameters In Common Carp Cyprinus carpio l. After Acute Copper And Cadmium Exposures. Fresenius Environmental Bulletin. Volume 19. No 1.